Tentang

Cerita Kami

Taman Beji Manik Segara

Taman Beji Manik Segara terletak di Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Berjarak lebih kurang 30 Menit dari Kota Denpasar dan Jalur masuk menuju Desa Wisata Baha sangatlah strategis karena terletak di antara beberapa daerah tujuan wisata lainnya seperti jalur wisata Taman Ayun dan Bedugul, antara destinasi wisata Taman Ayun dengan Ubud dan antara destinasi Taman Ayun dengan destinasi wisata Sangeh maupun jalur dari Ubud menuju Tanah Lot.

Taman Beji Manik Segara menawarkan pilihan wisata yang unik dan menarik. Wisatawan bisa menikmati pesona Desa yang sangat sejuk dan asri, Pemandangan sawah yang membentang luas, wisata tirta, agriculture, wisata Budaya dan juga bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat Desa yang ramah. Sebagian besar masyarakat Desa Baha bekerja sebagai petani. Sistem Subak masih dipegang erat sebagai sistem irigasi untuk pertanian. Rumah penduduk tertata rapi dengan konsep Desa Adat, Pura bediri megah baik Pura untuk Desa (Tri Kayangan) maupun Sanggah sebagai Pura keluarga dan upacara agama yang selalu berlangsung hikmat dengan sistem gotong royong yang merupakan aktualisasi dari konsep kehidupan manusia Bali “TRI HITA KARANA”, yaitu Kehidupan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungan.

Maret 2020, I Ketut Kerta terpanggil untuk menata ulang tanah warisan dari orang tuanya yang sudah lama ditinggalkan untuk mengabdi sebagai guru. Berbekal alat sederhana, beliau membuat kolam sederhana untuk menampung mata air yang memang sudah dari dahulu kala terdapat di lahan tersebut. Begitu banyak kebaikan dan jasa yang beliau tebar kepada oang yang pernah ditemuinya, tak heran banyak orang silih berganti untuk berkunjung hanya untuk membantu I Ketut Kerta dalam proses menata ulang tanah warisannya. Bantuan datang dari segala penjuru baik berupa tenaga, materi, ataupun sekedar teman berbincang membicarakan cita-cita beliau.

Lahan yang kini diberi nama Taman Beji Manik Segara semakin berkembang sampai saat ini. Banyak orang berdatangan untuk menikmati jernihnya air kolam yang bersumber dari mata air murni tersebut. Tak hanya pengunjung dari desa terdekat, kolam ini juga dikunjungi oleh turis domestik bahkan mancanegara.

Dalam proses penataan kolam, I Ketut Kerta sering bermimpi mengenai pura yang memang ada di lahan tersebut. Beliaupun merenovasi pura tersebut yang dimana kini dijadikan sebagai tempat penglukatan. Penglukatan merupakan proses pembersihan diri menurut kepercayaan Agama Hindu. Tempat penglukatan belokasi berbeda dari kolam pemandian umum karena penglukatan bersifat religius.

Sampai saat ini, I Ketut Kerta menikmati masa pensiunnya dengan merawat dan mengembangkan Taman Beji Manik Segara.

Founder Taman Beji Manik Segara - I Ketut Kerta